Wibu?
Kemarin, gw mendengarkan sebuah podcast yang diadakan oleh Hukata. Bisa dibilang gw member lama di server itu, meskipun keluar-masuk. Sebuah gebrakan yang tidak diduga dari Owner, mengundang pembicara baru selain dari sirkel para reguler.
Karena topik yang dibahas adalah bentrokan antara "Wibu Tua vs Wibu Covid", awalnya gw tidak bergabung ke kanal suaranya. Cringe banget, kesannya kayak #WibuPride begitu. Mungkin tercermin dari tulisan-tulisan sebelumnya, gw setengah jalan menjadi manusia yang normal. Bahkan ada rekan kerja yang baru tau gw bisa menggambar ilustrasi yang levelnya setara dengan Style Kawiwi Gemini walau lagi malas.

(Ngamuk dalam hati sedikit.. Usahaku sia-sia.. Ngapain juga ngabisin beberapa jam kalau Gemini tinggal simsalabim tring! Nggak taunya bagus juga)
Teman gw ada yang Wibu-nya lebih keliatan daripada gw, ada cantolan boneka Gaara dan Cyno di tasnya, motornya ditempeli stiker Tokyo Revenger.. Tak lupa beberapa badge/pin Identity V, kemudian sketsa dari gw ditaruh di casing transparan hapenya... I could never. Tahun ini udah lumayan """"tobat""", palingan gw bawa boneka Heathcliff kemana-mana. Orang awam nganggepnya semacam Labubu kali ya.
Gw nggak suka julukan Wibu, kesannya menghina. Mungkin banyak yang mengira gw mendewakan Jepang dan pengen ke sana, padahal aslinya gw lebih banyak terpengaruh oleh internet sisi Bahasa Inggris. Media Jepang... gw mendengarkan Vocaloid sejak 2012, dan sampai sekarang selera musik gw susah berubah. Tapi memang Vocaloid itu komunitas yang kreatif, baik dari segi musik, ilustrasi, video, software, pasti gampang terpicu untuk membuat sebuah karya.
(Toh sekarang game kesukaan gw itu Limbus Company, dari Korea bukan. Gw juga sempet suka novel Korea "Get Dropped into Ghost Story, Gotta Work", ada pergeseran sedikit).
Itu lah yang ditekankan pada pembicaraan kemarin. Penikmat "baru" media Jepang, yang kebanyakan dimulai sejak ehm Pandemi, tidak merasakan stigma yang dialami oleh generasi sebelumnya. Trendy kok. Mereka nggak bakal dicap aneh (masa?). Kemudian ada pembahasan mengenai apakah gatekeep itu perlu. Akibat algoritma ini sering menyebarkan konten yang seharusnya eksklusif, keluar sampai ke timeline orang... awam (malas buka tesaurus), akhirnya mereka menghakimi konten yang dianggap menyimpang. Menurut gw ini disebabkan oleh fenomena pengguna internet masa kini yang hobi mencari pelampiasan amarah, tapi tetap saja media sosial mengaburkan semua batasan.
Para pembicara menganjurkan buka suara untuk timbal balik, hanya saja gw menahan diri. Kalau Yuuya turun tangan, yang ada malah perang isu sosial. Jadi gw tulis saja di sini.
Kritik gw adalah, sepertinya mereka berasumsi kalau lingkungan Wibu itu isinya lelaki semua. Apalagi ketika dengan bangganya menyebut "Waifuku ....". Ketika berkomentar kemarin, gw aja dipanggil "Bang" lol. Gw penganut paham "Anggap semua user di Internet itu laki-laki", tapi lucu aja. Ketikan Bahasa Indonesia gw macho banget ya, kayaknya lumayan aura gadis pecicilan kalau di Bahasa Inggris. Komen, komen. (Nggak ada kolom komentarnya Bang).
Di Internet, ada satu keributan yang gw benci: Gender War. Tapi harus diungkit sekarang. Cowok wibu biasanya mengobjektifikasi perempuan, gimana nggak dianggap aneh oleh pihak seberang coba? Cewek wibu biasanya dua jenis, kalau dia suka cewek dua dimensi yang imut-imut berarti seleranya lebih mirip dengan cowok yang menjadi stereotip "wibu bejat". Cewek jenis ini laku kalau jadi Vtuber. Sementara yang tipe kedua, bisa disebut subkultur "fujo/yume", antitesis dari "Ini waifu gwh..." karena yang mereka kejar adalah suami gepeng. Secara style menggambar, beda drastis.
Mereka ini bagai air dan minyak. Makhluk fujo/yume biasanya alergi laki-laki yang nyata dan bisa dipegang, apakah kalian mau menyatukan mereka di satu label "Wibu" yang sama? Belakangan ini gw mengobservasi dua komunitas (baca: Discord server). Yang satu, isinya dominan cewek, satu lagi dominan cowok. Kalau yang cewek, biasanya mendiskusikan laki-laki fiksi kesayangan mereka, tak jarang konten yang dibuat berfokus pada hubungan. Sementara yang cowok, atmosfirnya ayo gambar terus, hustling hustling. Postingan yang dibagikan hampir semuanya cewek seksi. Gw punya feeling nggak bakal cocok di sana, bisa-bisa dicap homo ntar lmao.
Pada akhirnya para pembicara yang notabenenya "Wibu Lama" harus mengakui bahwa embel-embel Wibu yang dikenal oleh khalayak luas lebih condong ke "hobi laki-laki", tidak bisa dipukul rata.